Senin, 29 Maret 2010

Semangat Sabtu Pagi (Perjalanan Menuju Perpustakaan SEBUAI)

Sodara sodara, mohon maaf perjalanan selanjutnya baru bisa diceritakan hari ini. Cerita terakhir adalah waktu saya mampir di warnet di sekitaran Setu arah ke MM2100 Bekasi, ditengah perjalanan saya menuju Pembukaan Perpustakaan pertama SEBUAI. Kebiasaan saya adalah bertanya sesering mungkin untuk menghindari nyasar. Makanya waktu keluar dari warnet, saya nanya lagi ke satpamnya kira-kira kalau menuju Gedung Juang Tambun lebih deket lewat mana. Ternyata bukan lewat MM2100, tapi disuruh lurus aja sampe ketemu Kalimalang (buset, ini kali panjang amat ya..). Nah, akhirnya saya mengikuti navigasi dari pak satpam. Memang lebih cepat, terbukti cuma sekitar 15menit saya sudah sampai di lokasi. Jalan tikus yang saya lewati (berkat nanya lagi ke tukang ojek) juga membantu, karena langsung tembus tepat di seberang Gedung Juang. Dari seberang saya perhatikan Gedung Juang yang sangat tidak terawat itu. Setibanya disana, saya langsung duduk bergabung dengan teman-teman lain di teras depan. Acara yang sederhana, Adhyanti sang pelopor SEBUAI pun memberikan sambutannya. Yang hadir sedikit sekali, hanya rombongan dari SMKN 2 Cikarang serta saya dan Mbak Ajeng mewakili Blogger Bekasi. Sisanya ya panitia.

 
Tak seperti nama gedungnya, Gedung Juang, tuan rumahnya bukanlah veteran-veteran perang jaman dulu yang sekarang dah aki nini, melainkan komunitas anak-anak pengamen jalanan. Mereka begitu antusias dengan pembukaan perpustakaan SEBUAI ini apalagi ketika Mbak Adhy menjelaskan visinya untuk secara bertahap membuat sekolah terbuka untuk mereka. Acara menjadi seru ketika mereka tampil di depan kita. Dengan instrumen ala kadarnya, mereka mampu bernyanyi dengan semangatnya.

 

Entah kenapa saya melihat sesuatu dari mata mereka. Seperti mereka bernyanyi dengan hati, bukan sekedar musik tak berarti. Nyanyian itu sungguh menyayat mata hati saya. Percaya atau tidak, saya menangis. Entah kenapa. Melihat begitu tulusnya suara-suara mereka keluar dengan lantangnya. Nyanyian pun selesai, seorang diantara mereka, sepertinya dituakan, diminta maju memberi kata sambutan.


Pemuda yang dipanggil Om Dayak itu pun banyak bercerita tentang kisah mereka para pengamen jalanan. Tanya jawab pun menjadi seru diselingi gurauan-gurauan khas anak jalanan. Sungguh saya tak menyimak pembicaraan mereka, saya hanya memperhatikan betapa semangat mereka patut dijadikan contoh oleh kita. Juga rasa kebersamaan mereka, kreatifitas mereka. Saya diam. Melihat sisi lain kehidupan jalanan, menyadarkan saya yang tak pernah puas mensyukuri kehidupan. Hari ini saya belajar dari mereka. Belajar menikmati hidup dengan penuh rasa syukur.
Tiba-tiba saya tersadar, acara mulai menjadi jenuh. Saya pun berdiri tiba-tiba, "gimana kalo kita kenalan satu sama lain?"
"setujuuuuu....", sorak anak-anak SMK dengan heboh.
Maka satu persatu teman-teman pengamen pun memperkenalkan diri, walaupun akhirnya ada juga yang lari karena malu tapi tetap saja kami menjadi lebih dekat. Acara kembali menjadi seru, walau hanya berlangsung singkat. Suara saya sampai langsung serak menyemangati sesekali menyoraki mereka yang maju.


Saya suka sekali hari ini. Kawan saya menjadi bertambah banyak. Acara bubar begitu saja, perlahan tapi pasti. Tak berapa lama berselang, datang gerombolan Ibote membawa tambahan buku untuk SEBUAI. Tidak hanya buku, mereka juga membawa meja-meja kecil sebagai perlengkapan perpustakaan. Sungguh kekeluargaan yang indah, yang hanya berawal dari perkenalan di dunia maya. Selanjutnya, Ibote dan kawan-kawan lainnya sudah larut dalam "nyanyian ramai-ramai" mereka, sampai lupa bahwa masih ada perjalanan selanjutnya menuju Karawang untuk menyampaikan bantuan kepada korban banjir disana. Saya masih saja sibuk mengambil gambar kegiatan-kegiatan seru mereka mengusir kejenuhan menunggu mobil yang belum kunjung tiba (sayangnya kamera yang saya pakai punya Mbak Ajeng, jadi foto-fotonya masih tersimpan di Mbak Ajeng, huhuhuuu...)


Jam 1 siang, Pak Harun dan 4 mobil datang, dengan segera bantuan logistik dimuat kedalam mobil. Jam setengah dua kami pun berangkat, dengan berdempet-dempetan ria kami berjalan dengan semangat '45 menuju Karawang. Para pengamen tak ketinggalan, mereka menunjukkan kepedulian mereka dengan ikut menyewa satu mobil angkot dan beramai-ramai ke lokasi banjir untuk menghibur para korban. Acara SEBUAI berakhir manis, siap memulai perjalanan baru. Perjalanan yang masih panjang untuk menghidupi Perpustakaan Pertama SEBUAI di Gedung Juang sesuai dengan visi dan misinya. Sukses untuk SEBUAI!!!


artikel terkait:
SEBUAI Punya Hajat





5 comments:

Alrezamittariq on 29 Maret 2010 16.45 mengatakan...

keren banget...sangat bermanfaat

Ferdi on 30 Maret 2010 14.19 mengatakan...

perjuangan untuk bisa hadir di gedung juang semoga tidak sia-sia..
terus maju kartiniku....

tulisannya bagus banget

IdeRahde on 30 Maret 2010 15.14 mengatakan...

:)

Bukan Sekedar Blogger Bertuah-Tukiran on 9 April 2010 05.04 mengatakan...

maaf ya baru kali ini beri komentar di blog ini....semangat selalu ya...oya, saya sudah pasang link blog kamu di blog saya..di blogroll sahabat-sahabat terbaikku...pasang juga ya link blog saya di blog mu,,,untuk persahabatan,,,,

iLLa on 18 April 2010 17.39 mengatakan...

gak berenti berenti sayah salut sama Sebuai, bisa bikin kegiatan kek gini.. betol betol deh... 4 jempol buatnya.

*oot
oia mbak, link blog sayah yg ini ya. yg teman berbagi itu cuman agregator koq, diapus aja ^^

 

Temen Blogger ^^

Komunitas Saya