Kamis, 25 Maret 2010

Iri???

Pagi tadi, di depan pintu sambil memakai sepatu hendak pergi kerja, kudengar suaranya. Suara indah yang andai dia tahu betapa aku rindu dipanggilnya.
"Bi, ini lho ada yang namanya Gadi.."
samar kudengar ia bicara, bukan padaku.
"dia itu sama bidangnya di MICE juga, cuma dia gak punya tim. Jadi dia ngelamar2 kalo lagi mau ada event besar, biasanya dia nyarinya yang skala internasional. Sekarang dia lagi di Oman."
lanjutnya lagi.
Aku diam..
"iya Abi juga banyak panggilan buat event, tapi gak dibolehin sama kampus."
sahut adikku
Aku masih saja diam mendengar percakapan mereka.
Betapa aku rindu..
Aku kembali mendengarkan, acara pakai sepatu hari ini menjadi begitu lama.
"Iya, dari sekarang deh cari channel kayak dia, persiapin diri juga, les TOEFL sana."
Slep. Aku lemas, tak sanggup berdiri rasanya. Ingin pergi secepatnya. Tutup pintu, kabur dengan motor tua itu. Tak ada perlawanan, aku diam. Bahkan masih terdiam selama perjalanan. Masih saja terngiang tawaran itu, "Les TOEFL sana."
Tak sadar, air mataku jatuh. Kenapa begini lagi? kenapa begini perlakuanmu..
Aku menangis. Pandanganku kabur, konsentrasiku mulai pecah. Kupelankan motorku, berjalan di sisi jalan menuju kantor. Aku masih saja diam. Iri dengan percakapan tadi, iri dengan perhatian tadi, iri dengan dia, adikku???
Aku ingin teriak, aku ingin menangis sejadinya. Tapi peduli setan dengan teriakanku, tangisanku, semua akan berlalu ditiup angin kering.
Aku terlamun..

***

1999,
taun ini bakal lulus SMP, niat udah bulat bakal ngelanjutin ke SMA favorit pilihanku. Sebenarnya sebelumnya mau pilih sekolah analis negeri, tapi ternyata sejak taun lalu, sekolah analis negeri udah berubah jadi Akademi analis. Pupus sudah. Aku ingat mama lantas memintaku melanjutkan sekolah di Aliyah. Padahal SMA negeri itu juga sudah kuincar sejak lama. Ebtanas selesai, segera saja aku didaftarkan di Aliyah, tanpa menunggu hasil ujianku keluar. Tes pun dijalani, aku sengaja tidak belajar mempersiapkan diri untuk tes tersebut. Berharap tidak lulus. Apalah daya, lulus juga. NEM ku keluar. NEM tinggi itu ternyata tak meluluhkan niat mamaku memasukkanku ke sekolah agama pilihannya. Tak peduli anaknya setengah mati menolak. Tak peduli anaknya semalaman menangis..

2002,
lulus Aliyah
menangis sejadi-jadinya..
kabur..
pergi
berharap semua cuma mimpi..
tapi tak pernah tertidur, semua nyata.. sesak, sesak.. tangis
aku pun menikah, bukan untukku..
Kuliah, prestasi, beasiswa, luar negeri, karir, lupakanlah.. walaupun aku bisa, walaupun aku mampu

2007,
"Ma, ini keputusanku..", jelasku mencoba memberi pengertian
dia diam..
"Terserahlah.." mungkin hatinya bicara begitu
aku tau ia kecewa, aku tau ia sakit.. begitupun aku Ma, aku juga kecewa, aku juga sakit.
Aku juga sakit dengan perceraianku, dengan keputusanku.. tapi biarkanlah aku sekali ini saja memenuhi keinginanku. Memutuskan sendiri pilihanku. Membahagiakan batinku..
Kumohon..

2009,
Aku tau kau masih saja kecewa denganku.. sampai saat ini, sampai kau muak melihat mukaku, anakku, kegiatanku, temanku, semua tentangku. Sampai kau enggan untuk sekedar menyapaku, menjawab salamku, melihat wajahku. Sampai kau tak lagi menganggapku ada.. padahal aku disini masih saja merindukan sapaanmu, merindukan mata teduh itu memandangku penuh sayang seperti waktuku kecil dulu, melihat senyum banggamu tersungging seperti dulu kau membanggakanku. Aku kehilangan Ma, aku kehilangan.. atau semua itu karena aku bukan lagi seperti harapanmu?? yang kau ingin aku menjadi "mimpimu".

***

hari ini,
Aku terlamun..masih membayangkan percakapan itu. Dukungan, semangat yang diberikannya untuk adikku, yang tak pernah kudapat, yang seharusnya juga paling tidak pernah kurasa. Dan aku, aku sendiri tertatih menata masa depanku, merajut asa untuk anakku, tak pernah berhenti memberi yang terbaik untuk dirimu, walau semua sia-sia di matamu. Aku sendiri, berdiri diatas kedua kaki rapuhku, hanya mampu tersenyum getir, menyemangati hariku, menyemangati batinku, mencoba terus memberi senyum untuk anakku.
Aku iri???
mungkin..
walau tidak sebenarnya, aku hanya merindukan hakku sebagai anak.. walau kini aku seorang ibu.



*aku tak tau apa yang sebenarnya kutulis, semua mengalir saja, seperti airmata..

12 comments:

iLLa on 26 Maret 2010 01.50 mengatakan...

mbak umi.. :(( *speechless
be strong mbak, Rayyan membutuhkan ibu yg kuat. Soal ibu, Insya Allah komunikasinya bisa dibuat baik lagi koq. Beliau tetap seorang ibu, yg punya cinta tak terbendung untuk anak2nya. Percayalah :)

Alrezamittariq on 26 Maret 2010 08.09 mengatakan...

Mbak...kadang ortu kita terlalu memaksakan kehendaknya, sebagai anak memang harus nurut...namun dengan begitu suatu saat akan meledak juga penolakan - penolakan yang dulu seharusnya bisa dikeluarkan sedikit demi sedikit...dah terlanjur...
yang tabah ya mbak...yang tegar...mudah2an Allah memberikan sesuatu yang terbaik yang gak pernah disangka sangka di kemudian hari...Amin...

Alrezamittariq on 26 Maret 2010 08.16 mengatakan...

oh ya mbak...linkmu dah mampir di blogku nih...hehehe

Umi Kamilah Islamiyah on 26 Maret 2010 11.24 mengatakan...

Illa, iya La.. memang komunikasi itu yang masih sulit dibangun. Entahlah La, yang pasti sampai sekarang aku gak pernah berhenti mencoba dan memberikan yang terbaik, semampu yang aku bisa sebagai seorang anak.

Umi Kamilah Islamiyah on 26 Maret 2010 11.27 mengatakan...

Alrezamittariq (halah, manggilnya apa nih??)thanks buat linknya, nanti aku buatin link blogmu juga.. oiya aku yakin kok kalo ALlah itu pasti akan memberi yang terbaik buat aku, kalau gak sekarang berarti nanti.. ^^

chie2na on 26 Maret 2010 16.10 mengatakan...

sedih bgt, mi. kisah ceritamu ampir mirip dgn kisahku. jadi aku tau perasaan seperti itu. sedih, kesel, bingung, marah dll jadi satu. tp tetep dijalani dgn sabar, ceria dan semangat ya. apapun keputusan dan resiko yang kita pilih, kita siap menghadapinya. semangat ya, umi...

IdeRahde on 26 Maret 2010 16.17 mengatakan...

aku jadi terharu mbak....
pengen nangis rasanya =(

Umi Kamilah Islamiyah on 26 Maret 2010 16.20 mengatakan...

iya chie, sedih2an terus gak ada gunanya kan.. sabar, ceria dan semangat juga ya chie.. ^^

Umi Kamilah Islamiyah on 26 Maret 2010 16.22 mengatakan...

hayo hayo, g boleh nangis disini.. hehehe..

@yank Mira on 26 Maret 2010 17.50 mengatakan...

Umi....
sosok dirimu kulihat adalah sosok yang bgeitu kuat dan tegar, kamu pasti bisa bertahan, be strong dear, serahkan hanya pada Allah, ikhtiar okey... hug 4 u Mi...mwwaahh

bang FIKO on 26 Maret 2010 23.18 mengatakan...

Wah gak tau mo koment apa... Tapi yang pasti. Aku rasa ada sesuatu yang juga tak terungkap dalam diri mamamu bagaimana perasaanya sama Mila sekarang. Tapi kadang ego orang tua menyebabkan dirinya merasa risih untuk mengakui kesalahan, atau katakanlah untuk mulai memperbaiki keadaan. Be strong, Girl.. Mudah-mudahan semua akan indah pada waktunya.
Tadinya aku mo komen pertanyaanmu tentang home schooling.. tapi aku reply di blogku aja ya.. gak enak ngebahas disini :)

Umi Kamilah Islamiyah on 28 Maret 2010 21.17 mengatakan...

mbak mira, makasi buat smangatnya.. hugs ^^

 

Temen Blogger ^^

Komunitas Saya