Selasa, 09 Februari 2010

Balada Mie dan Kopi

Biasanya setiap makan siang, saya selalu menyantap makan siang di meja kerja saya atau keluar kantor bersama teman-teman. Siang tadi, tidak seperti biasanya, saya menghabiskan makan siang di pantry bersama 2 OB dan 1 teman yang kebetulan lagi makan disana. Sambil ngobrol, makanan pun habis, teman-teman satu persatu meninggalkan pantry dan kembali beraktifitas. Saya yang belum menghabiskan makan siang masih tetap tinggal disana. Tinggallah saya berdua dengan seorang OB, sebut saja Pak Dedi. Kami masih mengobrol sambil ia merebus mie pesanan temanku.
“Gini Bu, yang tadi siang saya telpon.. biasa masalah keuangan.” Katanya memulai pembicaraan dengan sedikit ragu
“Kenapa Pak?”
“Belum bayar listrik Bu,udah 3 bulan, takut disegel”
“Berapa?”
“Kurang 100 ribu lagi, saya pinjam Bu”
“Gantinya kapan? Soalnya ini uang kateringan Pak”, jelas saya.
“Yah saya kan punya uang cuma pas gajian Bu.”
“Yaudah nanti ya Pak..”
Saya perhatikan raut mukanya berubah, tadi waktu masih ramai mukanya kelihatan ceria sekali, tiba-tiba sekarang menunduk dan lesu sekali. Masih menunggu mie matang, tiba-tiba ada yang masuk ke pantry.
“Pak, tolong bikinin coffee mix ya Pak”, orderan dari bos.
“Iya, baik Pak”, sahut Pak Dedi
Mie pun segera jadi, bumbu mie telah dituang kedalam mangkok. Saya masih asik duduk sambil menghabiskan sisa sayur asem makan siang saya ketika Rudi, OB yang satu lagi, masuk dan langsung teriak.
“Pak Dedi!” sontak Pak Dedi dan saya nengok bersamaan.
“kenapa sih Rud?” sahut saya agak kesal
“itu kopinya kenapa dicampur ke bumbu mie?????” saya dan Pak Dedi kembali nengok bersamaan ke arah mangkok mie.
Huahahahahahah, semua nya ketawa melihat mangkuk mie berisi bumbu mie goreng dan kopi. Saya terpingkal-pingkal sampai perut sakit rasanya menertawai ulah Pak Dedi. Dia pun langsung menyuruh Rudi membelikan mie yang baru untuk sekedar diambil bumbunya.
“Makanya jangan bengong Pak..listrik gak usah dibawa ke mie dan kopi” ujar saya.
Saya pun segera menyelesaikan makan dan beranjak pergi dari sana, menuju meja kerja saya sambil masih terpingkal-pingkal.
***
Kemudian saya menyadari sesuatu. Menyadari bahwa sebenarnya saya pun sering mengalami kejadian mie dan kopi tadi. Betapa saya juga sebenarnya sering secara tidak sadar mencampur satu keinginan dengan keinginan lainnya, satu masalah ke dalam masalah lain, satu impian ke dalam impian lain, sekaligus masih juga meresahkan hal lain yang akhirnya menjadi pemecah fokus. Pak Dedi pada awalnya fokus membuat mie, lalu mulai resah dengan masalah keuangannya, sehingga ketika ia diminta membuat kopi, tanpa sengaja kopi nya tercampur dengan bumbu mie. Karena masalah keuangan tadi telah membuatnya terlalu resah, menjadikannya tidak fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.
Terlalu banyak ide untuk dijalankan membuat kita tidak fokus pada impian kita, apalagi ditambah dengan memikirkan hal-hal yang meresahkan seperti hutang misalnya. Ide boleh saja banyak tapi tetap saja harus dijalankan dengan terarah. Ketika saya dulu ingin bisnis balmut sendiri, saya juga ingin bisnis makanan ringan, dan saya memutuskan untuk menjalani dua-duanya. Namun ketika keduanya mendapatkan order yang lumayan, saya diresahkan oleh pekerjaan kantor yang harus selesai secepatnya juga, sementara saya belum punya karyawan untuk membantu menjalankan usaha saya. Kondisi seperti ini membuat otak pecah fokus, di satu sisi ingin mengembangkan bisnis sendiri, tapi pekerjaan kantor selalu setia menunggu untuk diselesaikan. Alhasil, seperti mie dan kopi yang akhirnya terbuang sia-sia, mie gak jadi, kopi gak jadi. Balmut berhenti, si makanan ringan juga vakum. Cuma pekerjaan kantor yang meresahkan tadi lah yang akhirnya selesai.
Maka dari sekarang, buatlah mie dan kopi Anda dengan fokus, jangan sambil mikirin hal-hal yang meresahkan karena nantinya cuma yang diresahkan itu yang dikerjakan, sedangkan mie dan kopi yang harusnya nikmat terbuang sia-sia. Lalu satu lagi, mulailah membagi tugas Anda, delegasikan kepada orang yang bisa Anda percayai jika memang dirasa sudah tidak bisa menangani sendiri.
Saya pun sedang kembali membuat mie dan kopi saya, kali ini dengan lebih fokus insya Allah supaya hasilnya lebih enak daripada yang sudah pernah saya buat.

6 comments:

Reifand on 9 Februari 2010 13.00 mengatakan...

The Moral is: Jauhkan Mangkok Mie dan Cangkir Kopi jika ingin membuat Mie dan Kopi sekaligus... :)

perto on 9 Februari 2010 13.53 mengatakan...

wah ,cerita yang menarik bu

terima kasih
syamsu Mie Ayam perto
Hp.0856 11 25 392
facebook:syamsu irman

Mirza Sharz on 13 Februari 2010 16.13 mengatakan...

Makanya yang fokus dong sama usaha atau pekerjaan yang sudah jelas hasilnya. Jangan melepas hasil buruan kecil yang sudah ada di genggaman untuk menangkap buruan besar yang masih belum tentu dapat dikejar.. Hanya doa yang tulus iklas saya panjatkan, semoga Mila dapat melangkah dengan tegar di jalan yang diridloi Allah demi meraih cita-cita dan masa depan yang gemilang...

Lady'sDiary on 16 Februari 2010 11.01 mengatakan...

mas irfan, betul mas, jauhkan mangkok mie dan cangkir kopi nya.. hehe..
pak syamsu, pak mirza, makasi makasi buat doanya..

IdeRahde on 26 Maret 2010 15.59 mengatakan...

boleh juga tuh mbak mie rasa kopi.
bisa jadi usaha kuliner baru nih :)

Umi Kamilah Islamiyah on 26 Maret 2010 16.07 mengatakan...

hwaduh, apa rasanya mie sama kopi???? ntar mabok gak??

 

Temen Blogger ^^

Komunitas Saya