Senin, 15 Februari 2010

MM The Jatis

5


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Assalamu'alaikum wr.wb
Salam semuanya..

Alhamdulillah pertemuan pertama The Jatis berjalan sukses. Walaupun dari siang hujan turun terus, sampai banjir menggenang dimana-mana, ternyata tetap tidak menyurutkan niat Kami untuk berkumpul dan saling bersinergi. Maka dari itu, hari Sabtu, 6 Februari 2010 kurang lebih pukul 21.00 WIB Kami dengan bangga mendeklarasikan MM THE JATIS (plok plok plooook...) dengan Bapak Ary Oni sebagai Pak Ketu dan saya sebagai sekretaris. Adapun warga The Jatis yang kemarin hadir adalah:
1. Pak Ary Oni (bakso udang roti) tentunya,
2. saya Mila (balmut)
3. Mbak Sefty dan suami (Kebab NN)
4. Mbak Evi (sandalimut)
5. Mbak Vita (edible prints)
6. Mbak Dhewsi
7. Pak Arifunnasiin
8. Pak Rum (repege)
dan yang tak ketinggalan yaitu Pak Dhika dan istri sebagai mentor.
Juga beberapa warga yang menyatakan gabung dengan MM The Jatis namun tidak dapat hadir pada pertemuan kemarin yaitu:
1. Mas Ikhsan Mul
2. Pak Arif Sugiantoro
3. Mas (bukan Bapak) Putra
4. Bapak Tajir Kurdi
Dan berdasarkan kesepakatan, agenda pertemuan The Jatis berikutnya adalah tanggal 20 Februari 2010 bertempat di rumah Pak Ketu kita Bpk. Ary Oni di Jatiasih dengan agenda:
- membahas perkembangan usaha masing2 warga The Jatis
- membahas target pencapaian usaha masing2
- sharing (trik dan tips) usaha

Demikian press release dari MM The Jatis, semoga bermanfaat dan memberi motivasi.

Wassalamu'alaikum wr.wb


begitulah kira2 isi press release deklarasi MM The Jatis yang saya posting di milis TDA Bekasi tanggal 6 Februari 2010. Sejak bergabung di Komunitas TDA Bekasi, ghirah alias semangat wirausaha kembali menggebu-gebu dalam diri saya. Memaksa diri untuk segera beraksi (halah sok puitis). Saya awalnya bingung dengan istilah MM di komunitas ini, sampai akhirnya saya memberanikan bertanya di forum. MM itu apaan ya?? singkatnya begitu pertanyaan saya. Dijawab oleh Mas Dhika yang ternyata div. MM di TDA. MM itu mastermind, kelompok kecil yang dibentuk untuk saling sharing mengenai perkembangan usaha dan bersinergi satu sama lain. Sepertinya MM begitu mengusik saya, karena memang pengalaman pribadi sekali dalam berwirausaha, semangat yang kembang kempis kadang membuat setan pesimis berkelebatan di otak. Seperti berkata "ya sudahlah Mila, gak usah diterusin usaha ginian, mending kerja aja jelas uangnya." Hah, dasar setan..
MM dibentuk juga untuk saling bersinergi antar anggotanya. Dalam satu MM biasanya sekitar 4-8 orang saja karena katanya kalo kebanyakan yang ada malah gak sharing. Dan dengan semangat MM yang menggebu-gebu, saya pun memberanikan diri bertanya di forum "ada yang tinggal di seputaran Kranggan gak ya?? Jatisampurna, jatiasih, dan jati-jati lainnya.. yuk bikin MM The Jatis". Entah darimana nama The Jatis itu, yang pasti langsung keluar dari mulut saya, tuntutan dari semangat tadi mungkin. Jawaban pertama yang saya dapat adalah dari Mas Dhika, "pertanyaannya dirubah bu umi menjadi ajakan, ayo kita bentuk MM The Jatis." Wah, ditantang nih, pikir saya. Menyambut tantangan Mas Dhika, ditambah ternyata banyak peminat The Jatis, saya pun mulai membuat pertemuan MM The Jatis pertama. Dibantu Mbak Sefty dan dikompori Mbak Evy, tempat ditentukan di Saung Apung Villa Nusa Indah 2. Maka terbentuklah MM The Jatis. Katanya saya lah pelopor alias penggagas utamanya. Rasanya semangat itu kembali muncul, dengan berkobar-kobar saya mulai merencanakan bisnis yang lebih serius. Maka malam itu, sepulang dari pendeklarasian MM The Jatis, dengan bangga saya tersenyum seolah berkata: "Kenalkan, Mila, menjelang 25 tahun, seorang pengusaha." Amiin..

Lelah, bisu, gila

4
aku lelah
lelah dengan kebisuan
sesekali bicaralah wahai sanubari
teriaklah kalau perlu
sekencang-kencangnya
biar saja dunia tau
engkau terluka
engkau lelah
sesekali
menangis saja
tak perlu tertahan di dalam kepiluan
biar saja air mata itu habis
walaupun hanya pikiranmu
toh tak ada yang bisa mengira maksudnya
biar saja matamu sembab
asal jiwamu lega
menjauhlah bisu
menjauhlah bisu
aku lelah denganmu
aku ingin teriak
aku ingin menangis
sejadinya
biar saja kau anggap aku sakit
toh aku masih saja kuat
berdiri dengan kedua kaki rapuhku
aku ingin tertawa sepuasnya
biar saja kau anggap aku gila
toh kau lebih gila
menganggapku tak ada
buktinya aku masih bisa membuat diriku tersenyum
bukan kau
bukan dia
biar saja kau anggap aku tak ada
padahal
aku ada
tak meminta apapun

Selasa, 09 Februari 2010

Balada Mie dan Kopi

6
Biasanya setiap makan siang, saya selalu menyantap makan siang di meja kerja saya atau keluar kantor bersama teman-teman. Siang tadi, tidak seperti biasanya, saya menghabiskan makan siang di pantry bersama 2 OB dan 1 teman yang kebetulan lagi makan disana. Sambil ngobrol, makanan pun habis, teman-teman satu persatu meninggalkan pantry dan kembali beraktifitas. Saya yang belum menghabiskan makan siang masih tetap tinggal disana. Tinggallah saya berdua dengan seorang OB, sebut saja Pak Dedi. Kami masih mengobrol sambil ia merebus mie pesanan temanku.
“Gini Bu, yang tadi siang saya telpon.. biasa masalah keuangan.” Katanya memulai pembicaraan dengan sedikit ragu
“Kenapa Pak?”
“Belum bayar listrik Bu,udah 3 bulan, takut disegel”
“Berapa?”
“Kurang 100 ribu lagi, saya pinjam Bu”
“Gantinya kapan? Soalnya ini uang kateringan Pak”, jelas saya.
“Yah saya kan punya uang cuma pas gajian Bu.”
“Yaudah nanti ya Pak..”
Saya perhatikan raut mukanya berubah, tadi waktu masih ramai mukanya kelihatan ceria sekali, tiba-tiba sekarang menunduk dan lesu sekali. Masih menunggu mie matang, tiba-tiba ada yang masuk ke pantry.
“Pak, tolong bikinin coffee mix ya Pak”, orderan dari bos.
“Iya, baik Pak”, sahut Pak Dedi
Mie pun segera jadi, bumbu mie telah dituang kedalam mangkok. Saya masih asik duduk sambil menghabiskan sisa sayur asem makan siang saya ketika Rudi, OB yang satu lagi, masuk dan langsung teriak.
“Pak Dedi!” sontak Pak Dedi dan saya nengok bersamaan.
“kenapa sih Rud?” sahut saya agak kesal
“itu kopinya kenapa dicampur ke bumbu mie?????” saya dan Pak Dedi kembali nengok bersamaan ke arah mangkok mie.
Huahahahahahah, semua nya ketawa melihat mangkuk mie berisi bumbu mie goreng dan kopi. Saya terpingkal-pingkal sampai perut sakit rasanya menertawai ulah Pak Dedi. Dia pun langsung menyuruh Rudi membelikan mie yang baru untuk sekedar diambil bumbunya.
“Makanya jangan bengong Pak..listrik gak usah dibawa ke mie dan kopi” ujar saya.
Saya pun segera menyelesaikan makan dan beranjak pergi dari sana, menuju meja kerja saya sambil masih terpingkal-pingkal.
***
Kemudian saya menyadari sesuatu. Menyadari bahwa sebenarnya saya pun sering mengalami kejadian mie dan kopi tadi. Betapa saya juga sebenarnya sering secara tidak sadar mencampur satu keinginan dengan keinginan lainnya, satu masalah ke dalam masalah lain, satu impian ke dalam impian lain, sekaligus masih juga meresahkan hal lain yang akhirnya menjadi pemecah fokus. Pak Dedi pada awalnya fokus membuat mie, lalu mulai resah dengan masalah keuangannya, sehingga ketika ia diminta membuat kopi, tanpa sengaja kopi nya tercampur dengan bumbu mie. Karena masalah keuangan tadi telah membuatnya terlalu resah, menjadikannya tidak fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.
Terlalu banyak ide untuk dijalankan membuat kita tidak fokus pada impian kita, apalagi ditambah dengan memikirkan hal-hal yang meresahkan seperti hutang misalnya. Ide boleh saja banyak tapi tetap saja harus dijalankan dengan terarah. Ketika saya dulu ingin bisnis balmut sendiri, saya juga ingin bisnis makanan ringan, dan saya memutuskan untuk menjalani dua-duanya. Namun ketika keduanya mendapatkan order yang lumayan, saya diresahkan oleh pekerjaan kantor yang harus selesai secepatnya juga, sementara saya belum punya karyawan untuk membantu menjalankan usaha saya. Kondisi seperti ini membuat otak pecah fokus, di satu sisi ingin mengembangkan bisnis sendiri, tapi pekerjaan kantor selalu setia menunggu untuk diselesaikan. Alhasil, seperti mie dan kopi yang akhirnya terbuang sia-sia, mie gak jadi, kopi gak jadi. Balmut berhenti, si makanan ringan juga vakum. Cuma pekerjaan kantor yang meresahkan tadi lah yang akhirnya selesai.
Maka dari sekarang, buatlah mie dan kopi Anda dengan fokus, jangan sambil mikirin hal-hal yang meresahkan karena nantinya cuma yang diresahkan itu yang dikerjakan, sedangkan mie dan kopi yang harusnya nikmat terbuang sia-sia. Lalu satu lagi, mulailah membagi tugas Anda, delegasikan kepada orang yang bisa Anda percayai jika memang dirasa sudah tidak bisa menangani sendiri.
Saya pun sedang kembali membuat mie dan kopi saya, kali ini dengan lebih fokus insya Allah supaya hasilnya lebih enak daripada yang sudah pernah saya buat.

Senin, 08 Februari 2010

Jalan lain menuju Puncak

4
Sabtu, 2 Januari 2010

Klo biasanya ke Puncak naik mobil pribadi lewat jalan tol Jagorawi, sesekali coba deh ke Puncak dengan motor.

Jalur yang biasanya dipilih kalau naik motor adalah Jalan Raya Bogor, karena jalannya gampang, tinggal luruuuuuuuuuuuus aja sampe Baranang Siang langsung lanjut ke arah Ciawi-Gadog, bablas Puncak. Tapi kali ini, saya penasaran dengan “jalur motor” lain menuju Puncak, yaitu lewat Sentul-Gunung Geulis. Hmmmh, mumpung ada sisa libur sampe Minggu, gak ada salahnya kita coba rute itu. Ditemenin sama sesama “gila jalan” Eko Setiawati, dari semalem udah nyiapin si Kanzen buat perjalanan ini. Malem dicuciin snow wash, pagi ganti oli dan nyetel rem yang udah mulai tipis kanvas nya. jam 11.15 kurang lebih waktu kita berdua memulai perjalanan. Start dari rumah Eko di Pd. Ranggon, Cibubur, lewatin rumah saya di Kranggan (penting banget disebut), trus Cikeas. Tadinya mo motong jalan lewat Nagrak tapi karena luping alias lupa-lupa inget sama jalurnya akhirnya kita mutusin lewat Cileungsi aja. Jalan alternatif Cibubur-Cileungsi padat sangat, libur panjang orang pada mo kemana sih (hehe, gak terima.com), motor aja sampe mepet di jalur kiri saking itu mobil dah bejubel. Sampe Cileungsi ambil arah Gunung Putri, macet dikit di perempatan (biasa deh, ada pasar berarti ada angkot ngtem). Lewatin pasar, jalan lancaaaaaaarrrrrrr…selancar-lancarnya. Huumh, enak juga lewat sini. Sampe Citeureup ambil ke arah Sentul, kalo dari pertigaan pasar Citeureup ambil lurus (klo ke kanan arah Cibinong). Disepanjang jalan itu juga lancar banget. Berasa banget bedanya sama klo lewat Raya Bogor yang penuh asep angkot dan truk-truk gede. Lewat jalan ini hawa dinginnya udah berasa. Nyari masjid dulu buat solat Zuhur, liat jam baru jam 12.14 brarti cuma 1 jam 14 menit dari Cibubur ke Pintu tol Sentul (pintu tolnya gak jauh dari masjid soalnya). Selesai solat dan istirahat jam 12.30, lanjut perjalanan lagi. Ambil lurus aja ke arah Madang (ini hasil liat papan jalan sama nanya tukang ojeg) lumayan jauh, tapi jalannya sepi dan adem. Kita bener-bener nikmatin perjalanan. Jalan aja terus nelusurin jalan itu (lha wong jalanan cuma itu doank). Tiba-tiba inget kalo di Sentul ada pemandian Gunung Pancar. Coba-coba nanya (pas banget di pertigaan) katanya Gunung Pancar masih lurus aja kira-kira 7 kilo (gubrag!!!), klo ke Gadog belok kanan. Bablas ambil kanan (dalem ati, jauh banget ni jalan). Jalan terus sampe puyeng, ada pertigaan lagi, nanya lagi suru belok kiri lewat Rainbow Hill.. duuuuh jalanan nya enaaaaaaaaaaaaaaak banget. Adem, dingin, sepi, liku-liku serasa dah di puncak.. nggak umpel-umpelan ama angkot, sampe kita sempet-sempetnya berenti n foto-foto (dasar narsis) eh tapi bukan kita doank lho, banyak juga motor yang pada berenti cuma buat foto, saking enaknya tu jalanan, brasa dah di Puncak. Lanjut lagi jalan kebablasan saking menikmati pemandangan.. Sampe Rainbow Hill lebih maknyus lagi suasananya..indah nian buat sebuah perjalanan panjang. Gak bikin stres (sempet foto-foto lagi). Lama-lama kita baru sadar kalo ternyata banyak yang pada piknik di sepanjang jalan Rainbow Hill. Gak taunya, disitu ada danau yang lumayan gede yang emang enak banget buat dijadiin tempat piknik atau sekedar duduk ngobrol. Kita pun nggak mau ketinggalan, gak mo nyia-nyiain kesempatan yang baru pertama kali ini, Langsung aja markir motor, nyari tempat n buka bekel.. (hahhahah, niat banget kan bawa makan dari rumah). Gak lupa foto-foto pastinya.. =p bekel nasi, ayam goreng, sayur sawi abis udah sebungkus (sisain satu bungkus lagi buat nanti) eit, gak lupa rambutan sekantong juga udah disiapin buat cuci mulut. Danaunya bagus banget, tapi sayang manusianya pada nggak ngerawat, sampah berserakan bekas pada piknik. Klo saya tinggal disitu udah saya tulisin tuh gede-gede “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, DEMI MENJAGA INDAHNYA DANAU INI”.







Tiba-tiba gerimis, duh makin asoy aja nih jalan.. hehe.. kita jalan pelan-pelan sambil nikmatin udara sejuk disitu (sambil bersyukur gak lewat Raya Bogor, hahahah, sentimen banget ma angkot), karena ujan mulai dateng reramean, akhirnya kita ngalah juga neduh di warung. Disitu liat jam udah jam 14.18 berarti dari masjid di sentul sampe sejauh ini cuma 1 jam??? padahal jalannya berasa jauuuuh banget, mungkin karena liku-liku kali ya.. eit, ngomong-ngomong kita gak tau tuh kita udah nyampe mana, gak ada papan alamat sih secara kanan kiri cuma pemandangan indah gitu. Nanya juga sama ibu-ibu warung katanya kita di Gunung Geulis. Seinget saya, Gunung Geulis itu dah daerah Gadog. Eh bener juga, gak lama dari warung itu, kurang lebih 10 menit kita udah keluar di Gadog, jalan raya Cisarua.. duuh senengnyaaaaaaa.. Paaaaas banget tuh jalan udah ditutup satu jalur untuk turun, tapi buat motor, pak Polisi nya ngebolehin kita lawan arah asal hati-hati. Sampe Cisarua jam 15.18 kurang lebih. Berarti Gunung Geulis-Cisarua 1 jam juga. Di total perjalanan kita makan waktu 3 jam, enaknya udah termasuk solat, makan, dan foto-foto. Bonusnya perjalanan gak pake stress dan asep, sebaliknya malah dapetin udara seger dari mulai Sentul dan seterusnya.

Buat yang sering hang out ke Puncak, rute ini bisa dicoba. Nggak buat motor aja, mobil juga boleh. Pokoknya recommended track deh.. Selamat mencoba, jangan lupa di sharing ceritanya.
 

Temen Blogger ^^

Komunitas Saya