Senin, 11 Januari 2010

Bagaimana Jika Anda Takut akan Perubahan?

Oleh: Amy Bloom
Terjemah oleh: Umi Kamilah

Perubahan bisa jadi sangat menakjubkan. Manusia selalu menyempurnakan penampilan mereka, pernikahan mereka, mencari pekerjaan baru, bahkan pasangan baru. Ditambah lagi, bayi mungil tersayang telah tumbuh menjadi anak yang luar biasa, yang sebentar lagi akan bisa membaca dan dalam sekejap akan tumbuh remaja di usia 16 tahunnya. Kulit mereka menjadi begitu bersihnya, kemudian mereka tidak pernah lagi bicara dengan Anda, mereka jatuh cinta pada orang yang andai saja Anda bisa memilih, tidak akan Anda biarkan masuk ke dalam rumah Anda, lalu mereka pindah jauh sekali, dan Anda jarang sekali ditengok oleh cucu Anda.

Itulah perubahan buat kebanyakan orang dari kita—sesuatu yang Anda harus berpura-pura merangkulnya walaupun sekedar sebagai pelipur lara; Anda seolah-olah tahu semua itu memang akan menjadi buruk dan Anda merasa diacuhkan. Hal mengerikan lainnya tentang perubahan adalah bahwa kita menginginkannya sebanyak ketakutan kita, dan kita membutuhkannya seperti kita membutuhkan perlindungan. “Saya benci perkawinan saya tapi saya juga takut menjadi sendiri, kesepian”. “Saya muak menjadi Pengacara tapi saya tidak tahu lagi harus menjadi apa”.

Berita baiknya adalah: Tidak penting apakah Anda suka atau tidak pada perubahan, apakah Anda merangkulnya atau malah lari, perubahan tetap akan mengambil tempatnya setiap waktu, dengan atau tanpa partisipasi Anda. Mulai dari perubahan yang sekecil tikus, sampai perubahan besar sebesar gajah (kematian, perceraian, cacat). Perubahan akan tetap datang bahkan ketika Anda tidak membuat perubahan, dalam perkawinan Anda yang berantakan, pekerjaan yang kacau, atau dalam keretakan hubungan persaudaraan Anda, semua itu tetap akan menjadi sebuah perubahan, bagaimanapun. Satu-satunya pilihan Anda adalah dengan mengambil langkah ke arah perubahan itu sendiri, atau menunggu dan melihat kejutan-kejutan apa yang alam punya untuk Anda.

Biasanya, perubahan itu seperti hujan di musim semi. Sebagian dari kita cukup memakai jas hujan saja dan melanjutkan perjalanan dengan berciprat-cipratan, sebagian dari kita memilih untuk tinggal saja dirumah, sebagian kegirangan dan segera membuka pakaian mereka kemudian melompat-lompat di halaman, tak peduli betapa mereka akan kebasahan. Dan tanpa peduli kenapa, hujan tetap saja turun. Hujan kadang turun di rumput yang kering, menjadi perubahan yang kita harapkan, kemudian hujan turun lagi, berikutnya mungkin di tempat yang tidak kita harapkan. Sylvia Boorstein, seorang nenek berdarah Yahudi, seorang psikoterapis, dan seorang Buddhist, yang menurut Saya sangat signifikan kalau Saya yakin Dia pasti tahu sesuatu tentang mengeluh (bahkan walaupun hanya sekedar gerutu), dan menerima (bukan sekedar berpura-pura). Boorstein menuliskan: “Kita bisa berjuang menghadapi, atau menyerah. Menyerah adalah kata-kata yang menakutkan buat sebagian orang, karena itu bisa diartikan sebagai kepasifan, atau takut-takut. Menyerah berarti secara bijak mengakomodasi diri kita kepada apa yang berada dalam kontrol kita. Menjadi tua, sakit-sakitan, mati, kehilangan apa yang menjadi kesayangan kita..semua berada dalam kontrol kita. Saya juga sama takutnya dengan kehidupan kemudian marah—atau tidak. Saya bisa saja dikecewakan tapi saya tetap tidak akan marah." Manusia yang menjadi tua, rencana yang berubah—memang begitulah seharusnya.

2 comments:

lee on 18 Januari 2010 10.57 mengatakan...

Perubahan ...membawa banyak dampak pada kita dan lingkungan di sekitar kita...rasa takut salah satunya....sukses ya ...postingnya mantap

Anto Blog's on 1 Februari 2010 14.26 mengatakan...

Kalau menurut saya kalau kita takut akan perubahan maka kita tidak akan maju alias tertindas....

 

Temen Blogger ^^

Komunitas Saya